Aku terlahir sebagai lelaki, pada tanggal 09-09-1979, di sebuah desa kecil dekat perkebunan karet maha luas milik pengusaha jerman-amerika. Sebagai anak desa aku suka sekali bermain. Sebab suasana desa yang tenang-familiar dan tentram membuatku leluasa bermain di sawah, halaman tetangga, atau memanjat pohon jambu sebelah rumah yang memang buahnya sangat lebat bila musimnya tiba.
Walaupun terlahir sebagai anak desa aku bersekolah, di sebuah sekolah dasar milik pemerintah hasil inpres. Tidak banyak pengalaman menarik yang ku temui, kecuali pengalaman berkelahi yang membuatku tahu siapa diriku. Yaitu Anak desa yang keras kepala. 1991 aku lulus sd dengan predikat sangat memuaskan walau hanya mendapat juara ketiga dalam perolehan DANEM.
Sekali waktu kalian yang anak kota atau anak desa juga di belahan Indonesia atau dunia manapun tentulah pernah mendapati diri kalian berseragam biru-putih. Yah…smp. Tidak ada cerita menarik yang dapat aku ceritakan saat aku smp. Semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti menyukai teman sekelas, berkelahi dengan teman sebangku, tawuran dengan sekolah sebelah. Mengenal ganja untuk pertama kali, dan mengenal pendidikan sex dari stensilan dan video porno.
Sekolah menengah umum jadi tujuanku setelah smp, disinilah masa-masa perkembangan yang mendebarkan. Juga sekaligus membuatku berani membanggakan diri. Perkelahian dengan teman sepermainan, sekelas, sekolah lain masih tetap dilakukan dan tak bisa di elakkan. Namun disamping jadwal skorsing yang ada aku memiliki jadwal membangun kreativitas setiap minggu di smu. Aku bergabung dan turut membidani lahirnya sebuah grup parody tingkat sekolah. Setiap ada perayaan hari besar keagamaan, hari ulang tahun sekolah, hari guru atau hari perpisahan dengan anak kelas tiga yang akan menamatkan smu, kami selalu mendapat tepuk tangan dari para penggemar kami di sekolah.
Diatas panggung sekolah yang tidak besar namun cukup membanggakan setiap kami
tampil, guru-guru terhibur, anak-anak mengidolakan kami. Guru bp yang selalu
menamparku bila aku masuk kantor bimbingan dan konseling memujiku dengan senyum
bangga bahwa aku di samping keras kepala memiliki jiwa kreativ. Aku bangga akan
diriku. Begitulah saat itu. Walaupun catatan perkelahianku sudah melampaui
kewajaran untuk anak smu sepertiku. Lulus dengan nem lumayan, dan sederet
julukan seram mengantarku ke dunia kerja.
Ibuku berharap aku jadi guru. Kakakku setali tiga uang dengan ibu. Ayah hanya memberikan tatapan kosong, tanpa dorongan, tanpa saran. Aku memilih berkelana, merantau dan bekerja. Kupilih pulau batam sebagai tempat perantauanku pertama kali.
Kota industri itu menengelamkanku dalam pekerjaan kasar nan melelahkan. Aku terpuruk, merasa hina dina dan lelah. Kuputuskan untuk pulang setelah delapan bulan aku berada dalam cengkeraman pemodal singapura. Tanpa setumpuk uang atau sebuah prestise.
Setelah batam ku tinggalkan, aku kembali bingung, mau berbuat apa?, keterampilan tidak punya, pendidikan Cuma setingkat sma. Akhirnya kegiatan norak, dan menyerempet bahaya aku jalani beberapa bulan. setelah pulang dari pulau batam. Berkelahi, mabuk-mabukan, ngebut di jalanan, dan terakhir menjual ganja secara eceran. Itupun merugi dan tak menghasilkan, apa-apa.
Aku tak ingat siapa yang mendorongku untuk memilih jurusan ilmu sejarah di fak. Sastra usu medan. Seingatku ibu hanya mengatakan, “Jika kamu mau kuliah, kuliahlah di perguruan tinggi negeri, sebab biayanya tentu lebih murah”, katanya.
Aku hanya menyukai geografi, sejarah dan tatanegara, selain pelajaran itu aku tak menyukainya kecuali sedikit bahasa dan sastra Indonesia, yang ternyata bahasa tak
begitu ku senangi. Sastralah pilihanku, sebab sejak kisah epic Mahabarata ku baca
waktu SD dahulu, aku selalu senang dengan cerita-cerita kepahlawanan, kerajaan
kuno, perang-tanding, perempuan cantik dalam cerita, serta kisah-kisah
negeri-negeri yang indah dan makmur. Akhirnya dengan semangatlah aku dapat
menduduki bangku perguruan tinggi negeri. Sebuah perguruan tinggi nomor 1 di
Sumatera Utara. Namun di fakultas yang tak komersil. Fakultas sastra. Jurusan
Sejarah pula. “Mau jadi guru kau?” begitu ledekan teman-teman waktu itu. Aku
hanya tersenyum kecut. Yang ku ingat aku kuliah sebab aku takut menjadi bandit,
atau pencuri, pembunuh dan perampok. Aku takut tidak bisa hidup tanpa narkoba,
tanpa minum-minuman keras. Dan yang lebih kutakutkan aku takut menjadi petani.
Sebab petani selalu berurusan dengan Lumpur, tahi bebek, tahi kerbau, air yang
Berlumpur, rumput liar, tanaman gatal-gatal atau padai yang gatal. Terpanggang matahari, tersiram hujan, serta harus mencangkul dan membabat hingga kuku kaki hancur oleh lumpur. Dan yang lebih menyedihkan. Sawahku terserang hama, hingga gagallah panen. Aku takut sekali, maka aku memilih untuk menembus barikade UMPTN. Walau harus rela hidup serba kekurangan di rantau orang.
Benar dugaanku, kampus membuat diriku percaya diri, bersih, beradab, beragama, dan pandai ber-orasi. Namun sempat di tahun awal aku mengelilingi lingkaran setan, ganja, Red Label, Rock N Roll, dan Internet Porno. Di samping aku juga mengembangkan potensi manajemenku di sebuah kepanitiaan maha dahsyat. “Ketua_Panitia, Festival Band Pelajar/Mahasiswa se-Kodya. Aku mendapati diriku sukses sebagai seorang pimpinan proyek mahasiswa hasil rapat kerja Ormawa. Tentunya dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk teman-teman kampus, dosen, dekan, rector, pengusaha, preman, polisi, gubernur dan walikota.
Kini, aku berada di gelanggang lain di sebuah rimba yang sangat liberal. Bergerak perlahan, tertatih, mengeluh sakit, agressif, konyol, norak, dan tetap dengan kekeras kepalaan walau sedikit kendur akibat tekanan-tekanan kondisi yang terus menggeserku. Dunia jurnalistik telah kupilih sebagai aplikasi ilmu, media untuk bertahan hidup, dan kuanggap sebagai pencapaian prestasi, selain batu loncatan untuk dapat melihat seluruh alam Indonesia.
Kamis, 08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar